Selasa, 13 Februari 2018

MAKALAH IMAN KEPADA MALAIKAT



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam agama Islam kita mengenal lima pilar agama yang lebih kita kenal dengan rukun iman. Salah satu pilar agama tersebut ialah iman kepada Malaikat-malaikat Allah. Para Malaikat sendiri hanya menyembah Allah dan selalu taat kepada-Nya, mereka tidak pernah berdosa. Tidak ada satu pun manusia yang mengetahui ada berapa banyak jumlah Malaikat-malaikat Allah.
Walaupun manusia tidak dapat melihat Malaikat tetapi jika Allah berkehendak maka Malaikat dapat dilihat oleh manusia, yang biasa terjadi pada  Nabi dan Rasul. Kendati demikian, Malaikat merupakan makhluk kepercayaan Allah yang menjadi perantara dalam menyampaikan wahyu-Nya kepada Rasul.
Meskipun iman kepada Malaikat merupakan salah satu pilar agama, kita sendiri terkadang kurang memahami tentang apa itu Malaikat dan bagaimana cara beriman kepadanya. Maka dari itu, tanpa kita mengetahui bagaimana cara beriman kepada Malaikat kurang sempurnalah pilar agama yang kita bangun.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa itu Malaikat?
2.      Bagaimana cara iman kepada Malaikat?
3.      Bagaimana cara penerapan iman kepada Malaikat?





BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Malaikat
Secara bahasa kata Malaikat dari bahasa Arab merupakan bentuk jamak dari kata “Malaka atau malak” yang berarti kekuatan[1]. Dalam akidah Islam Malaikat adalah wakil atau pesuruh Allah untuk melakukan tugas-tugas tertentu.
Secara istilah Malaikat dapat diartikan sebagai kekuatan-kekuatan yang patuh, tunduk, dan taat pada perintah serta ketentuan Allah SWT. Malaikat sendiri merupakan perantara Allah untuk menyampaikan wahyu kepada Rasul sebelum diberikan kepada umat-Nya.
 Malaikat merupakan makhluk ghaib yang mempunyai jasad yang amat halus, diciptakan Allah dari cahaya dan mempunyai bentuk beraneka ragam, mereka senantiasa taat dan setia terhadap perintah Allah dan tidak pernah mendurhakai-Nya (QS. 66/Al-Tahrim:6). Sementara itu diriwayatkan dari Ikrimah, ia berkata: “Para Malaikat diciptakan dari nurul ‘izzah (cahaya kemuliaan), sedangkan Iblis diciptakan dari narul ‘izzah (api kemuliaan).
Malaikat itu disucikan dari kesyahwatan-kesyahwatan hawaniyah, terhindar sama sekali dari keinginan-keinginan hawa nafsu, terjauh dari perbuatan-perbuatan dosa dan salah. Mereka tidak seperti manusia yang suka makan, minum, tidur, berjenis lelaki atau wanita. Jadi mereka itu memang mempunyai sesuatu alam yang tersendiri.
Tidak ada yang mengetahui jumlah malaikat selain Allah, umat islam hanya diwajibkan mengetahui sepuluh malaikat sesuai dengan tugas-tugasnya yaitu:
a.       Malaikat jibril yang bertugas untuk menyampaikan wahyu
b.      Malaikat mikail yang bertugas untuk menurunkan rezeki
c.       Malaikat isrofil yang bertugas untuk meniup sangkakala pada hari akhir dan hari pembangkitan.
d.      Malaikat izrail yang bertugas untuk mencabut atau mengambil nyawa.
e.       Malaikat munkar bertugas untuk bertanya dalam kubur
f.       Malaikat nakir bertugas untuk bertanya dalam kubur
g.      Malaikat atid yang bertugas untuk mencatat segala amal perbuatan yang buruk yang dilakukan manusia.
h.      Malaikat raqib yang bertugas untuk mencatat segala amal perbuatan baik yang telah dilakukan manusia.
i.        Malaikat ridwan yang bertugas untuk menjaga pintu surga
j.        Malaikat malik yang bertugas untuk menjaga pintu neraka
Malaikat-malaikat tersebut sudah memiliki tugas masing-masing yang telah diberikan Allah. Namun, mereka memiliki sifat-sifat seperti yang digambarkan oleh hadis Nabi, yaitu:
1.      Tidak seorangpun yang mampu mengetahui hakikat para Malaikat kecuali Allah. Keberadaan mereka termasuk hal ghaib, tidak dapat disentuh oleh salah satu panca indera manusia. Akan tetapi umat islam wajib mempercayai bahwa malaikat itu benar-benar ada.
2.      Malaikat merupakan makhluk yang sangat pemalu.
3.      Malaikat adalah makhluk yang senantiasa mengucapkan tasbih baik siang maupun malam.
4.      Malaikat adalah makhluk yang senantiasa takut kepada Allah sehinngga mereka tidak bosan dalam melakukan tugas-tugasnya.
5.      Malaikat akan senantiasa mencintai orang-orang yang mencintai Tuh
6.       
7.      an mereka.
8.      Malaikat selalu menghhambakan diri kepada Allah dan patuh akan segala perinta-Nya, mereka tidak pernah berbuat maksiat dan berdurhaka kepada Allah.
9.      Malaikat adalah makhluk yang diciptakan dari cahaya, mereka senantiasa bersama dengan manusia tetapi manusia tidak dapat melihatnya.
10.  Malaikat mampu mengubah wujud mereka, terkadang seperti manusia[2].
B.     Cara Beriman Kepada Malaikat
Iman kepada Malaikat adalah yakin dan membenarkan bahawa Malaikat itu ada, diciptakan oleh Allah SWT dari cahaya atau nur. Beriman kepada malaikat adalah perbuatan baik dan merupakan tanda-tanda kebenaran, kepercayaan, serta ketaqwaan. Sebenarnya keimanan itu belum dapat dianggap sebagai keimanan yang haqiqi, kecuali seseorang itu sudah beriman dengan alam rohani yakni alam malaikat dengan keyakinan yang sedikitpun tidak dicampuri oleh kebimbangan dan tidak pula diselundupi oleh angan-angan dan prasangka yang bukan-bukan.
            Beriman kepada malaikat dengan cara:
            Pertama, iman kepada wujud mereka sambil mengkai apakah mereka hanya ruh, memiliki jasad, atau memiliki ru dan jasad. Jika kita menganggap para malaikat memiliki jasad, jasad mereka tentu halus dan lembut. Jika halus dan lembut, berarti jasad mereka terbuat dari cahaya dan udara.
            Kedua, meyakini bahwa mereka suci dan bebas dari kesalahan. Allah berfirman tentang para malaikat; “mereka takut kepada tuhan mereka yang berkuasa atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka) An-Nahl;50
            Ketiga, meyakini bahwa mereka adalah perantara antara Allah dan manusia. Setiap malaikat ditugasi mengurus satu bagian dari alam semesta ini.
            Keempat, meyakini bahwa kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada nabi melalui perantaraan malaikat.
Jadi salah satu untuk mema’rifati alam malaikat adalah dengan mempercayai wahyu yang telah diturunkan kepada Rasulullah SAW, sebab hal itu memang termasuk dalam salah satu keghoiban dari sekian banyak keghoiban yang masih di rahasiakan oleh Allah SWT. [3]
C.    Penerapan Iman Kepada Malaikat
Setelah mengetahui cara beriman kepada malaikat Allah SWT maka yang selanjutnya harus kita lakukan adalah menerapkan iman kepada malaikat dalam perilaku kita sehari hari, seperti:
1.      Menjauhi dosa dan maksiat
Perbuatan yang paling menyakiti para malaikat adalah perbuatan dosa, maksiat, kekufuran, dan kesyirikan. Karena itu salah satu perkara paling penting yang dilakukan manusia agar dapat iman kepada malaikat ialah menghindari hal-hal tersebut. Sungguh para malaikat tidak akan mauk ketempat-tempat dan rumah-rumah yang di dalamnya terdapat perbuatan maksiat kepada Allah atau di dalamnya sesuatu yang di benci-Nya; seperti berhala, patung, gambar-gambar[4].
Kita tahu bahwasannya di kanan kiri kita terdapat malaikat yang siap mencatat amal kita baik dan buruk. Maka dari itu ada baiknya jika kita mengerjakan amal-amal baik dan merasa malu jika mengerjakan amal-amal buruk.    
2.      Tidak menganggu malaikat
Dinyatakan dalam hadist-hadist shahih bahwa para malaikat juga bisa terganggu sebagaimana halnya seperti manusia. Mereka merasa terganggu dengan aroma-aroma yang tidak sedap, kotoran, dan sampah. Bahkan, Rasulullah pernah memerintahkan orang yang datang ke masjid, sementara bau bawang merah dan bawang putih tercium olehnya, agar mereka keluar menjauh dari tempat tersebut.
3.      Tidak  meludah ke sebelah kanan ketika sholat
Rasulullah melarang orang yang sedang sholat meludah ke sebelah kanan, karena ada malaikat yang berdiri di sebelah kanan orang yang sedang shalat.
4.      Mencintai seluruh malaikat
Seorang muslim wajib mencintai seluruh malaikat tanpa membeda-bedakan antara satu dengan yang lainnya. Sebab, mereka semua adalah hamba Allah yang senantiasa melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Mereka adalah satu kesatuan, yang tidak pernah berselisih dan tidak pula bercerai berai.
5.      Bersikap rendah hati
Seseorang yang telah beriman kepada Allah SWT akan bersikap rendah hati karena ia merasa bahwasannya ibadah yang ia lakukan belum ada apa-apanya dibanding ibadah yang dilakukan para malaikat.
D. HIKMAH BERIMAN KEPADA MALAIKAT
1.      Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling mulia dibanding dengan makhluk lainnya termasuk para malaikat, namun ibadah dan kesyukuran yang ditampilkan manusia tidak sebanding dengan ibadah dan kesyukuran yang ditunjukan oleh para malaikat. Dengan iman kapada malaikat dan mengenali mereka secara benar, manusia akan sadar akan kelemahan dan kedurhakaannya kepada allah.
2.      Manusia akan senantiasa merasa diawasi oleh Allah, sehingga tidak akan sewenang-wenang berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan tuntutan ajaran agama.
3.      Senantiasa berusaha mengadakan hubungan dengan para malaikat dengan jalan mensucikan jiwa dan meningkatkan ibadah kepada Allah, sebab seorang akan sangat beruntung apabila dia termasuk golongan yang sering didoakan oleh para malaikat tidak pernah ditolak Tuhan.
4.      Untuk menambah ketaqwaan kepada Allah, sebab segala perbuatan dan tindak tanduk yang dilakukan manusia tidak luput dari pengamatan Allah.

















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Malaikat merupakan kekuatan-kekuatan yang patuh dan tunduk terhadap perintah-perintah Allah. Malaikat merupakan perantara Allah dalam menyampaikan wahyu-Nya kepada Rasulullah.
Tidak ada seorang pun manusia yang mengetahui berapa banyak jumlah Malaikat yang ada. Namun manusia wajib mengetahui sepuluh Malaikat beserta tugas tugasnya yang telah Allah tentukan.
Malaikat memiliki sifat yang berbeda dengan manusia. Manusia memang diciptakan sempurna oleh Allah, akan tetapi Malaikat lebih patuh dan tunduk kepada Allah dibanding manusia.
Beriman kepada Malaikat kita harus yakin tanpa ada keraguan, karena itu merupakan salah satu rukun agar sempurnanya agama dan keyakinan kita. Setelah kita beriman kepada Malaikat ada baiknya kita menerapkan dengan baik dan benar bagaimana saja perilaku beriman kepada Malaikat dalam kehidupan kita.
B.     Saran
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki masih sangat kurang. Oleh karena itu kami mengharapkan saran dan kritik dari pembaca yang bersifat membangun untuk menyempurnakan makalah ini.





DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Umar Sulaiman, Serial Akidah & Rukun Iman, Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2014
Harahap Syahrin, Hasan Bakti Nasution, Ensiklopedia Akidah Islam, Jakarta: Kencana, 2009
Sabiq, Sayid, Aqidah Islam, Bandung: CV. Diponegoro, 1996


[1] Harahap Syahrin, Hasan Bakti Nasution, Ensiklopedia Akidah Islam, Jakarta: Kencana, 2009 hlm. 365
[2] Harahap Syahrin, Hasan Bakti Nasution, Ensiklopedia Akidah Islam, Jakarta: Kencana, 2009 hlm. 366
[3] Sayyid sabiq, aqidah islam, Bandung: CV.Diponegoro, 1996 hlm.205.
[4] Abdullah, Umar Sulaiman, Serial Akidah & Rukun Iman, Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2014 hlm. 128

MAKALAH IMAN KEPADA ALLAH SWT



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Beriman kepada Allah adalah salah satu pokok terpenting yang harus dilakukan oleh seluruh umat islam, selain beriman kepada Malaikat, kitab-Nya, Rasul-Nya, iman kepada hari akhir, dan kepada qada’ dan qadhar. Seorang belum dikatakan beriman kepada Tuhanya apabila ia belum dapat meyakini dalam hatinya, bahwa Tuhan Allah adalah dzat yang Maha Esa dengan segala keagungan dan sifat-sifatntnya. Adapun beriman kepada sifat Allah termasuk juga dalam klasifikasi iman kepada Allah.
 Maka dari itu, sebagai umat muslim kita wajib meyakini bahwa Allah mempunyai sifat yang melekat pada-Nya, yang patut kita percayai dan kita imani. Maka dari itu, pada makalah ini  kami akan  membahas mengenai iman kepada Allah, tidak hanya membahas tentang iman kepada Allah saja , melainkan juga membahas tentang cara mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari – hari.          
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa itu beriman kepada Allah?
2.      Bagaimana tingkatan iman kepada Allah ?
3.      Bagaimana cara mengaplikasikan iman kepada Allah ?
C.    Tujuan Pembuatan Makalah
1.      Untuk mengetahui apa itu beriman kepada Allah .
2.      Untuk mengetahui bagaimana cara mengaplikasiakan iman kepada Allah dalam kehidupan sehari- hari.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Iman Kepada Allah
Apa itu iman? Iman adalah ucapan dan perbuatan. Ucapan hati dan lisan, serta amal hati. Artinya pengakuan yang di (ucapkan) dalam hati dan lisan serta bersedia melakukan yang dibenarkannya melalui amal hati. Dari Abu Hurairah, ia berkata, "Rasulullah   bersabda, 'Iman terbagi lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Yang paling utama adalah ucapan laailaa ha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan sifat malu termasuk satu cabang dari iman." HR. Muslim Sehingga dapat disimpulkan iman merupakan suatu yang tersembunyi dalam jiwa atau pengakuan dalam lubuk hati.
Sebagaimana kita ketahui dalam agama Islam memiliki Rukun Iman yakni beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada qadla’ dan qadar (ketentuan).[1]
Seorang muslim yang beriman kepada Allah adalah yang membenarkan adanya Tuhan Yang Maha Agung Tuhan Maha Pencipta langit dan bumi. Dia mengetahui alam gaib dan alam nyata, Maha Pengatur, raja segala sesuatu. Tiada Tuhan melainkan Dia. Dialah Yang Maha Agung, Yang memiliki sifat-sifat maha sempurna. Untuk pertama kalinya kita mendapat petunjuk dari petunjuk-Nya. (Allah berfirman : Kalaulah bukan karena petunjuk Allah, tidaklah kita akan mendapat petunjuk .) .[2]
Iman kepada Allah adalah salah asas dan inti kaidah Islamiyah. Maka ia adalah pokok, dan semua rukun–rukun akidah dihubungkan kepadanya  atau mengikutinya. Dari ajaran dasar, timbulah bagian-bagian dan rukun- rukun iman yang lain. Bahwa beriman kepada Allah adalah beriman pada yang ghaib, dan beriman kepada yang ghaib memerlukan dalil- dalil yang rasional untuk membuktikan kebenaran keimanan itu. Dalil- dalil tentang wujud Allah ada yang berdasarkan akal dan ada juga yang berdasarkan wahyu dan merupakan dalil lengkap bagi pengetahuan kita tentang Allah.[3]
Berikut adalah dalil- dalil  tentang iman kepada Allah :
Didalam Al-Qur’anul Karim, Allah memberikan keberadaan, pengaturan, nama, dan sifat-sifat . Allah berfirman :
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِين
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (Qs. Al-A’raf : 54)
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“ Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (Qs. Thaha : 14)
Ketika menentang ketidak benaran pengakuan akan adanya tuhan selain Allah , Dia berfirman:
 لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ
“ Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (Qs.Al- Anbiyaa : 22)
            Berdasarkan dalil aqli yang rasional dan dalil naqli yang dapat didengar manusiapun meyakini Allah dan pengurusannya terhadap segala sesuatu bentuk ketuhannannya (bagi orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang datang kemudian). Atas dasar inilah maka kehidupan muslim, dalam segala aspeknya, sangat bergantung pada keimanan terhadap Allah SWT.[4]
B.     Tingkatan Mengimani Allah dan Pengaplikasian Iman Dalam Kehidupan
Tingkatan mengimani Allah (tauhid) yaitu ada lima tingkatan, yaitu :
1.    Taqlit
Taqlit secara umum adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui sumber atau alasannya. Namun untuk kasus Iman Kepada Allah ialah taqlit atau mengikuti orang tua, karena saat kita masih belum bisa menemukan dasar atau ilmu dalam Iman Kepada Allah alangkah lebih baiknya jika kita mengikuti orang tua kita yang sudah paham soal Iman Kepada Allah, dan itu sebagai cara agar kita juga bisa belajar tentang Ilmu Agama lainnya yang diajarkan oleh Nabi Muhammad.
2.    Ilmu yang dimiliki
Ilmu yang kita miliki berguna untuk menemukan bukti yang dapat meyakinkan kita tentang iman kepada Allah, tentang keberadaan Allah contohnya, dan semua yang dapat meyakinkan kita tentang iman kepada Allah. Namun ada satu lagi bukti tentang ilmu yang kita miliki dan yang Allah miliki, yaitu sepintar apapun kita, sejenius apapun kita pasti ada sebagian hal yang tidak kita ketahui, namun berbeda dengan Allah, seperti dalam firman-Nya
وَاللهُ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمَوَتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ وَاللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
“Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
3.    Selalu diawasi oleh Allah
Bila kita tidak bisa menerapkan keyakinan bahwa Allah sedang melihat kita, maka kita akan menjadi hamba yang lupa akan pengawasan Allah, karena kita mengira bahwa Allah tidak mengetahui apa yang kita kerjakan.Seperti saat kita sedang berbohong atau berdusta, itu kita lakuakan karena kita tidak memiliki keyakinan bahwa Allah sedang melihat apa yang kita lakukan, dan pada umumnya, orang yang telah melakuakan kebohongan maka ada kecenderungan untuk melakukannya lagi, lagi, dan lagi.
Mungkin bagi yang melakukan kebohongan atau dusta, baik itu yang kecil atau besar, lupa bahwa Allah sedang mengawasi kita, seperti yang tertulis dalam firman-Nya.
وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُوْنَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيْرًا مِمَّ تَعْمَلُوْنَ
“Dan kamu tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, pengelihatan dan kulitmu terhadapmu, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Fushshilat : 22)
Allah menciptakan telinga, mata, dan kulit bertujuan agar menjadi saksi atas apa saja yang kita kerjakan selama di dunia, seperti dalam Al-Qur’an yang berbunyi.
حَتَّى اِذَا مَا جَاءُوْهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَاَبْصَارُهُمْ وَجُلُوْدُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, pengelihatan, dan kulit mereka menjadi saksi terhadap apa yang telah mereka lakukan.” (QS. Fushshilat : 20)
Jadi, bila ada dari kita yang kadang masih suka berbohong atau berdusta, baik dalam hal kecil maupun besar, baiknya segeralah bertaubat, dan mulai mengamalkan bahwa segala tingkah laku kita diawasi oleh Allah, sehingga segala yang kita kerjakan haruslah berisi dengan kebaikan bukan dengan keburukan yang dapat membuat kita mendapatkan dosa.
4.    Melihat Allah dengan mata hati
Manusia dapat melihat benda disekitar dengan ke-dua mata seperti biasanya, namun saat kita ingin melihat Allah, kita melihat dengan ke-dua mata maka kita tidak akan melihat Allah, namun Allah hanya bisa dilihat dengan mata hati sebagai mana Allah berkata dalam firman-nya:
لَاتُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ (الأنعام:103)
Artinya : Dia tidak dapat dicapai dengan pengelihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala pengelihatan itu  dan Dialah Yang Mahahalus, Mahateliti.
Kita hanya bisa melihat Allah dengan mata hati apabila kita sudah merasa diawasi oleh Allah, namun apabila kita tidak merasa diawasi Allah kita pasti kesulitan untuk melihat Allah dengan mata hati kita. Dan saat kita tidak dapat melihat Allah dengan mata hati maka kita bisa saja menjadi tersesat dan keluar dari tuntunan Allah. Sebagaimana firman Allah :
وَمَنْ كَانَ فِي هذِه اَعْمى فَهُوَفِى الْاخِرَةِ اَعْمى وَاَضَلُّ سَبِيْلًا(الاسراء:72)
Artinya : Dan barang siapa buta (hatinya) di dunia ini, maka di akhirat dia akan buta dan tersesat jauh dari jalan (yang benar).
Untuk dapat melihat Allah hati kita haruslah dalam keadaan bersih, jika hati kita tidak dalam keadaan bersih akan membuat setan mudah menyesatkan kita.

5.     Semuanya hanya untuk Allah (Zuhud)
Secara harfiah al-zuhud berarti tidak ingin kepada sesuatu yang bersifat keduniawian.[5] Sedangkan menurut Harun Nasution zuhud artinya keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian.[6]
Zuhud termasuk salah satu ajaran agama yang sangat penting dalam rangka mengendalikan diri dari pengaruh kehidupan dunia. Orang yang zuhud lebih mengutamakan atau mengejar kebahagiaan hidup di akhirat yang kekal dan abadi, daripada mengejar kehidupan dunia yang fana sepintas lalu. Hal ini dapat dipahami dari isyarat ayat yang berbunyi.

تُظْلَمُونَفَتِيلًاوَلَااتَّقَىٰلِمَنِخَيْرٌوَالْآخِرَةُقَلِيلٌالدُّنْيَامَتَاعُقُلْ                                    

Artinya: “Katakanlah kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun” (Q.S. An-Nisa [4]: 77).

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
Artinya: “Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” (Q.S. Al-A’la [87]: 17).
 
Dari ayat di atas memberi petunjuk bahwa kehidupan dunia yang sekejap ini dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal dan abadi, sungguh tidak sebanding. Kehidupan akhirat lebih baik dari kehidpan dunia.
Orang yang berpandangan demikian tidak akan mau mengorbankan kebahagiaan hidupnya di akhirat hanya karena mengejar duniawi yang sementara. Orang yang demikian akhirnya akan terpelihara dari melakukan hal-hal yang negatif. Ia selalu berbuat yang baik-baik saja. Hal ini sejalnya dengan hadis Nabi yang menyatakan.
“Jika kamu melihat seseorang yang dianugerahi sifat zuhud dalam dirinya dan selalu lurus sikapnya, maka dekatkanlah orang itu, karena orang itu yang telah meyakini hikmah.”[7]



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Iman adalah pengakuan yang di (ucapkan) dalam hati dan lisan serta bersedia melakukan yang dibenarkannya melalui amal hati. Sebagaimana kita ketahui dalam agama Islam memiliki Rukun Iman yakni beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada qadla’ dan qadar (ketentuan). Seorang muslim yang beriman kepada Allah adalah yang membenarkan adanya Tuhan Yang Maha Agung Tuhan Maha Pencipta langit dan bumi. Dia mengetahui alam gaib dan alam nyata, Maha Pengatur, raja segala sesuatu. Tiada Tuhan melainkan Dia. Dialah Yang Maha Agung, Yang memiliki sifat-sifat maha sempurna. Untuk pertama kalinya kita mendapat petunjuk dari petunjuk-Nya. Iman kepada Allah adalah salah asas dan inti kaidah Islamiyah.
Tingkatan mengimani Allah (tauhid) yaitu ada lima tingkatan, yaitu :
·      Taqlit
·      Ilmu yang dimiliki
·      Selalu diawasi oleh Allah
·      Melihat Allah dengan mata hati
·      Semuanya hanya untuk Allah (Zuhud)
B.     Saran
Menyadari penulisan dalam makalah masih jauh dari kata sempurna, untuk ini kedepan nya penulisan akan lebih baik lagi dalam menyusun makalah diatas dan dapat lebih dipertanggung jawabkan lagi dalam membuat referensi.
Maka dari itu, penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun terhadap penulisan makalah tersebut.


DAFTAR PUSTAKA
 
Umaiyah, Siti. Kamis 26 Oktober 2017. “Makalah Iman Kepada Allah”, http://sitiumaiyahh.blogspot.co.id/2013/05/v-behaviorurldefaultvmlo.html.
Bakar Jabir El-Jazair, Abu. 1990. Pola Hidup Muslim. Bandung : Remaja Rosdakarya. Cet-1.
Yunus, Mahmud, 1990 Kamus Arab Indonesia, Jakarta: Hidakarya Agung, , hlm.158.
Nasution, Harun. 1983.Falsafah dan Mistisisme dalam islam. Jakarta: Bulan Bintang,
Al-Qusyairi, al-Naisabury. t.t. al-Qusyairiyah fi’Ilm al-Tasawwuf. Mesir: Dar al-


[1] Siti Umaiyah, “Makalah Iman Kepada Allah”, http://sitiumaiyahh.blogspot.co.id/2013/05/v-behaviorurldefaultvmlo.html kamis 26 oktober 2017.
[2] Abu Bakar Jabir El-Jazair , Pola Hidup Muslim, Bandung : Remaja Rosdakarya, Cet-1 ,1990 ,hlm 1.
[3] Nur Hidayat , Aqidah akhlak dan pembelajarannya . 61
[4] Abu Bakar Jabir El-Jazair , Pola Hidup Muslim, Bandung : Remaja Rosdakarya, Cet-1 ,1990 ,hlm 7
[5]Mahmud  Yunus, Kamus Arab Indonesia, Jakarta: Hidakarya Agung, 1990, hlm.158.
[6]Harun  Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1983, hlm.64.
[7]al-Naisabury Al-Qusyairi, al-Qusyairiyah fi’Ilm al-Tasawwuf, Mesir: Dar al-Khair, t.t., hlm.115