BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Ilmu tauhid adalah ilmu yang paling penting dalam agama
islam. Sebab ilmu tauhid adalah Ilmu yang membahas tentang ajaran dasar dari
agama islam. Mempelajari Ilmu tauhid juga menjadi hal yang wajib bagi setiap
umat islam agar mengetahui mengapa kita percaya pada Allah. Tanpa mengetahui
ilmu tauhid, kita tidak akan menemukan tujuan hidup sebenarnya, sebab seorang
hamba harus tahu betul, siapa yang kita sembah. Oleh sebab itu, setiap orang
islam harus berkeinginan mengenali seluk beluk agamanya secara mendalam melalui
ilmu tauhid. Dalam Q.S. Al-Anbiya : 25,
“Dan Kami
tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya:
"Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah
olehmu sekalian akan Aku".
Dalam surat tersebut menjelaskan betapa pentingnya tauhid
bagi manusia, sehingga tauhid ditempatkan pada bagian pertama dan dan utama
oleh semua agama, khususnya agama islam. Oleh karena itu, sangat penting sekali
bagi kita, apa sebenarnya tauhid dalam inti dari agama islam, manfaat, serta
tujuan tauhid tersebut untuk kehidupan manusia, dengan harapan bisa bermanfaat
bagi pemakalah maupun yang membaca makalah ini.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas,
didapatkan rumusan masalah sebagai berikut
1. Mengapa
Tauhid menjadi intisari islam?
2. Apa
manfaat mempelajari ilmu tauhid?
3. Apakah
tujuan mempelajari ilmu tauhid?
Berdasarkan rumusan masalah yang penulis dapatkan, maka
tujuan yang diharapkan bisa di capai dalam penulisan makalah ini adalah
memahami tauhid sebagai intisari islam dan manfaat serta tujuan mempelajari
ilmu tauhid untuk kehidupan manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Tauhid menjadi
Intisari Islam
Tauhid sebagai ajaran atau ilmu memiliki
kedudukan yang tinggi dalam islam. Kedudukan tauhid dalam ilmu tauhid adalah
sebabgai dasar atau pondasi utama bagi ajaran atau ilmu keislaman yang lain
seperti syari’ah dan akhlak tasawuf. Dengan kata lain, tauhid berfungsi sebagai
pintu gerbang yang mesti dilalui oleh ajaran atau ilmu-ilmu keislaman yang
lain.[1]
Tauhid sebagai itisari Islam, nalarya seluruh
nabi dan seluruh rasul itu punya tugas membawa misi, minimal
2 misi yaitu risalah dan nubuah.
Misi nubuah yang di bawa nabi-nabi dari nabi
adam sampai nabi muhammad itu sama membawa misi tauhid yaitu Lailahaillallah (Tiada Tuhan Selain
Allah).
Bisa di tafsirkan tiada dzat yang patut di
sembah kecuali Allah, berarti meniadakan yang lain hanya ada satu itulah yang
disebut tauhid. Agama yang dibawa nabi itu agama tauhid dimana intisari dari
agama tauhid itu pengakuan terhadap tuhan yang satu. Sebab agama yang di bawa
nabi itu hanya satu yang disebtu agama hanif. Ketika Al-Qur’an datang
penamaanya berubah menjadi Islam. Penamaan Islam itu asalnya dari Allah.
B. Manfaat
Mempelajari Ilmu Tauhid
Betapa pentingnya
tauhid bagi kehidupan manusia, sehingga tauhid ditempatkan pada bagian pertama
dan paling utama oleh semuan agama, khususnya agama samawi. Berikut adalah manfaat dari mempelajari ilmu
tauhid :
1. Tauhid dapat
memerdekakan umat manusia dari segala perbudakan dan penghambaan kecuali kepada
Allah SWT. Yang menciptakan dengan bentuk yang sempurna.
2. Tauhid dapat membantu
dalam pembentukan kepribadian yang kokoh, arah hidup menjadi jelas, dan tidak
mempercayai Tuhan kecuali hanya kepada Allah SWT. Kepada-Nya tempat menghadap,
baik dalam kesendirian atau di tengah keramaian orang, dan selalu memohon
kepada-Nya dalam keadaan sempit maupun lapang.
3. Tauhid dapat
memberikan kekuatan jiwa kepada pemiliknya dengan penuh harap kepada Allah SWT.
Dan selalu bertawakal, ridha atas ketentuan-Nya, dan sabar terhadap musibah.
4. Tauhid yang baik dan
benar dapat menghilangkan sifat syirik ( menyekutukan Allah SWT )
yang hatinya terbagi-bagi untuk tuhan-tuhan dan sesembahan yang banyak, yakni
sesaat menghadap dan menyembah yang hidup, dan suatu saat menghadap dan
menyembah kepada yang mati. Dalam firman-Nya Allah SWT. Menjelaskan : “Hai
penghuni penjara, manakah yang lebih baik tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu,
ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?”. (Q.S Yusuf: 39).
5. Tauhid sebagai
pondasi manusia dalam menjalani perintah dan menjauhi segala larangan-Nya,
sebagai hamba yang mulia untuk membentuk pribadi yang beriman dan bertaqwa.
C. Tujuan Membelajari Ilmu Tauhid
Karena itu, tujuan ilmu tauhid dapat dirumuskan
sebagai berikut.[2]
1) Agar kita memperoleh kepuasan batin, keselamatkan dan
kebahagian hidup di dunia dan di akhirat, sebagaimana yang dicita-citakan. Kalau hanya mengandalkan kemampuan akal saja, belum
pasti dan tidak akan pernah berhasil mencapai kepuasan dan kebahagian. Sebagai
bukti ialah bahwa kekacauan dunia dimana-mana ditimbulkan oleh mereka yang
tidak bertauhid. Banyak pemerkosaan, pembunuhan, perampokan, bunuh diri,
mabuk-mabukan hingga menjadi gila dan sebagainya. Semua itu adalah akibat
karena orang tidak memberkati diri dengan iman dan tauhid. Manusia yang tidak
memperhatikan segi-segi moral dan spiritual atau akidah dan hanya kehidupan
lahir saja adalah manusia yang dihinggapi sikap batin yang beku (akalnya tidak
berfungsi atau bekerja menurut semestinya). Oleh karena itu, manusia perlu
penghidupan batinnya dengan iman dan tauhid, agar mau dan mampu mengikuti
petunjuk Allah yang tidak mungkin salah, sehingga tujuan mencari kepuasan dan
kebahagian itu benar-benar terjadi. Sebagaimana firman Allah SWT. dalam Q.S.
Al-Baqarah: 189, yakni: “Dan bertakwalah kamu kepada Allah,
supaya kamu berbahagia”
2) Agar kita terhindar dari pengaruh akidah-akidah yang
menyesatkan, yang sebenarnya hanya hasil pikiran atau kebudayaan semata-mata,
atau hasil perubahan yang dilakukan terhadap seseorang Nabi dan Rasul yang
sebenarnya. Sedangkan tujuan
perubahan itu semata-mata politik, sehingga karenanya di dunia ini selalu
terjadi perebutan pengaruh diantara penganut agama-agama yang berbeda-beda. Di
satu pihak ingin menyebarluaskan serta mempertahankan kebenaran dan kejujuran
dalam beragama, dilain pihak ingin mempertahankan pengaruhnya dalam masyarakat,
Sebagaimana firman Allah SWT. dalam Q.S. Al-Baqarah: 213, yakni: “Manusia
itu adalah umat yang satu (setelah timbul perselisihan, maka Allah mengutus
para Nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi ganjaran dan pemberi
peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi
keputusan diantara manusia tentang perkara yang mereka
perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah
didatangkan kepada mereka kitab, yaitu setelah datang kepada mereka
keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri.”
3) Agar terhindar dari pengaruh faham-faham yang dasarnya
hanya teori kebendaan (materi) semata. Seperti kapitalisme, komunisme, sosialisme,
materialism, kolonialisme dan sebagainya yang semuanya itu bertujuan hanya
mengumpulkan dan memperebutkan harta. Sehingga dengan berpegang kepada iman
yang benar dan tauhid, terhindarlah dari pengaruh ajaran yang menyesatkan.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Secara khusus alasan tingginya intisari ilmu
tauhid adalah terkait dengan tingginya posisi iman seseorang dalam agama islam.
Kedudukan iman menjadi kunci di terima atau tidaknya amal seseorang.
Manfaat dari ilmu tauhid yaitu membebaskan
manusia dari segala perbudakan dan penghambaan kecuali kepada Allah SWT dan
sebagai pondasi manusia dalam menjalani perintah dan menjauhi segala larangan
nya.
Tujuan ilmu Tauhid ialah
memantapkan keyakinan atau kepercayaan agama dengan jalan akal fikiran
disamping kemantapan hati bagi seseorang yang percaya padaNya dengan
mempertahankan kepercayaan-kepercayaan tersebut dan berusaha menghilangkan
berbagai keraguan yang masih melekat atau sengaja dilekatkan oleh lawan-lawan
kepercayaan itu.
B.
SARAN
Menyadari penulisan dalam makalah masih jauh dari kata sempurna,
untuk ini kedepan nya penulisan akan lebih baik lagi dalam menyusun makalah
diatas dan dapat lebih dipertanggung jawabkan lagi dalam membuat referensi.
Maka dari itu, penulis
menerima saran dan kritik yang bersifat membangun terhadap penulisan makalah
tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Khunaifi Agus, Ilmu Tauhid sebuah pengantar menuju muslim
moderat, Semarang: Karya Abdi Jaya, cet. Ke-1 2015
Departemen Agama
RI, Al Qur’an dan Terjemahanya Edisi
Tahun 2002,Jakarta Timur: Darrus Sunnah, 2011
Zainuddin, IlmuTauhid Lengkap, Jakarta: Rineka Cipta, 1992,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar